Kisah Syahidnya ‘Amr bin Jamuh
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)
‘Amr bin Jamuh dulunya adalah seorang penyembah berhala yang sangat setia dan memuliakan berhalanya. Namun setelah memeluk islam, ia menjadi seorang muslim yang taat dan semangat dalam bejihad. Sebelum memeluk islam ‘Amr bin Jamuh dikenal sebagai orang yang dermawan. Maka setelah masuk islam pun kedermawanannya semakin meningkat. Ia nafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan dakwah dan jihad. Ketidaksempurnaan yang dimilikinya tidak menghalanginya untuk mencapai cita-cita luhurnya yaitu berjihad dan mati syahid di jalan Allah.
Suatu hari saat perang badar berkobar, ‘Amr bersiap-siap mengikuti peperangan itu, tetapi anak-anak dan istrinya melarangnya untuk berperang mengingat usianya yang tidak lagi muda dan juga kakinya yang pincang. Karena alasan inilah ‘Amr termasuk dalam orang-orang yang mendapat keringanan untuk tidak berperang.
Hal ini tidak membuat hatinya luluh. Ia bersikeras memaksa agar ikut berperang. Mengahadapi ayahnya yang begitu bersemangat, anak-anaknya memohon pada Rasulullah untuk memerintahkan ayahnya agar tinggal di Madinah. Rasulullah pun mengabulkan permintaan anak-anak ‘Amr. Mendengar hal ini, ‘Amr kecewa dan terkuburlah cita-citanya untuk mati syahid.
Kesempatan kedua datang untuk ‘Amr. Saat itu kaum muslimin telah siap menyerang kaum musyrikin di perang Uhud. ‘Amr pun ikut bersiap. Namun anak-anaknya kembali melarangnya. Merasa tak ingin kehilangan kesempatan kedua, ‘Amr memohon kepada Rasulullah, “Wahai Nabi Allah, anak-anakku hendak mencegahku untuk berbuat kebaikan dengan alasan kepincanganku, sungguh saya sangat berharap untuk menginjak surga dengan kepincanganku ini.”
Mendengar ucapan ‘Amr, Rasulullah berkata, “Biarkan ia berangkat dan semoga Allah menganugerahkan kesyahidan kepadanya. Mendengar perkataan Rasulullah, ‘Amr sangat gembira. Begitu tiba waktu perang, ia berpamitan pada istrinya seolah ia takkan kembali. Ia pun berdoa, “Ya Allah anugerahkanlah kepada saya kesyahidan, janganlah kembalikan saya kepada keluarga saya dengan penuh kekecewaan.”
‘Amr pun berangkat berperang. Dalam peperangan ia dikelilingi oleh tiga orang anaknya. Walaupun kakinya pincang, keberaniannya tidak terkalahkan dengan orang-orang normal. Ia tetap maju mengayunkan pedangnya ke arah lawannya. Ketika kaum muslimin tertekan karena banyak sahabat yang gugur , ‘Amr bin Jamuh bersama sahabatnya ‘Amr bin Haram bahu membahu melindungi Rasulullah dari serangan kaum musyrikin hingga akhirnya gugurlah ‘Amr bin Jamuh. Setelah perang usai, Rasulullah memerintakan agar ‘Amr bin Jamuh dikubur bersama dengan ‘Abdullah ‘Amr bin Haram karena keduanya saling menyayangi dan setia ketika hidup di dunia.
Sesungguhnya Allah lah yang menciptakan tubuh dan jiwa ini. Maka biarkanlah tangan, kaki, mata dan telinga ini menuruti apa yang diperintahkan oleh Tuannya...
Sumber majalah Hidayatullah
No comments:
Post a Comment